Gedung Student Center Lt.3 No.15 Kampus UIN SGD Bandung. Jln, A.H Nasution No.105, Cibiru-Bandung, Bandung LPM SUAKA UIN SGD Bandung © 2023

From Celebes to Ibu Kota

“From Celebes to Ibu Kota”
Foto dan Teks: Nur Ainun/Suaka

Usia tidaklah menjadi penghalang bagi sesorang untuk terus berkarya. Kalimat itulah yang dipegang teguh oleh Roby Kasim (59). Lelaki bertubuh kecil dan topi baret di atas kepala, dengan gaya khasnya itu akrab disapa dengan panggilan ‘Daeng Caddi’ atau Kakak Caddi’. Iamerupakan seniman lukis berdarah Mangkasara(Makassar) yang menyenangi dunia seni sejak duduk dibangku sekolah dasar.


Kecintaannya terhadap dunia seni mengantarkan Daeng Caddi hingga ke Ibu Kota. Pada tahun 1978, saat dirinya yang kala itu berstatus sebagai siswa sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP). Dengan menaiki kapal selama lima hari dari pelabuhan Paotere-Makassar menuju pelabuhan Tanjung Priuk, Jakarta Utara.

“Saya tidak melihat masa depan saya di Makassar. Bapak saya benar-benar marah saat itu. Bagaimana tidak, anak umur 14 tahun kabur dari Makassar ke Jakarta. Meninggalkan pendidikan,” tutur Daeng Caddi’ sembari menunjukan portofolio lukisan-lukisan pesanan yang pernah digarapnya, di depan Pasar Melawai, Minggu (31/07/2023).

Pasar Melawai Blok M, Kecematan Kebayoran Baru,Jakarta Selatan, menjadi tempat Caddi’ menjajakan jualannya dari tahun ke tahun. Pada masanya, kawasan sekitaran Melawai, Blok M menjadi area tongkrongan wajib para kawula muda. Di era kejayaanya sekitar 1980-1990-an, Blok M dikenal sebagai ikon budaya popular Jakarta, karena memiliki sejumlah tempat menarik untuk dikunjungi dengan beragam aktivitasnya.

Kuas, Cat, dan Kanvas menjadi teman sehari-hari. Caddi’ mulai mengumpulkan keuntunggan-keuntungan dari hasil menjual lukisan untuk menghidupi dirinya. Satu lukisan berukuran 30 x 30 cm bisa dibandrol dengan harga 500 ribu hingga jutaan rupiah, tergantung tingkat kesulitan dan besaran ukuran kanvas.

Hiruk pikuk penjualan lukisan tidak selalu laris manis. Tidak jarang pula terdapat pelanggang yang melakukan tawar-menawar di bawah harga pasar. Namun Caddi’ tidak mempermasalahkan hal tersebut, baginya mereka yang menawar dengan harga murah ialah mereka yang tidak mengerti bagaimana seharusnya seni diperlakukan.

Selang beberapa tahun kemudian, Caddi’ menemukan tambatan hatinya di ibu kota. Ia meminang gadis berdarah Jawa-Palopo untuk dijadikannya seorang Istri. Dalam pernikahannya ia dikarunia dua orang anak laki-laki, yang kini telah menyandang status sebagai sarjana.

Jari jemari Caddi’ men-scroll beranda facebookmiliknya, tidak lama kemudian ia melanjutkan ceritanya, “Jadi di syukuri saja, yang ada. Rezeki tidak kemana, dua anak saya laki-laki semua dan mereka sudah jadi sarjana.Benar-benar saya sekolahkan mereka dari hasil seni. Bapaknya mungkin gagal di pendidikan, tapi anaknya tidak boleh,” ungkapnya.


Menggeluti pekerjaan sebagai seniman dengan pengalaman lebih dari 40 tahun, tentu ada banyak cerita yang telah dilalui Caddi’. Mulai dari lukisannya yang dibeli oleh publik figur seperti artis hingga politisi, juga dengan kesialan yang membuatnya meringis. Seperti berkali-kali ditipu oleh orang seperantauannya.

Sambil tertawa ia membagikan pengalamannya, “Lukisan saya pernah dibeli sama Tio Pakusadewo sampai pak Jusuf Kalla. Kalau yang pahitnya, saya pernah ditipu. Motor di bawa kabur, uang hilang, juga sudah saya rasakan.” ungkapnya sambil menggeleng kepala, pertanda tidak habis pikir.

Dengan beragam perjalanan dan pengalaman yang tidak dapat ditebak, Caddi’ mengaku tidak ada penyesalan dalam hidupnya memilih menjadi seorang seniman. Omset yang tidak menentu dan beragam problematika sebagai seorang seniman jalanan, bukan lah sebuah hal yang perlu disesalkan. Caddi’ tetap menikmati profesinya.

Kini, diusianya yang setengah abad, Caddi’ sudah tidak lagi berupaya mendapatkan keuntungan banyak, karena kedua anak dan istrinya telah memiliki hidup yang lebih layak. Ia hanya menikmati kecintaannya pada seni dengan tetap bergumul bersama kawan-kawan seniman jalanan di Blok M, Jakarta Selatan dan sesekali pulang ke kampung halamannya, Makassar kala merindukan suasana tanah kelahirannya.

Berkat semangat dan kegigihannya, ia membutikan bahwa menekuni apa yang disukai, akan membuahkan hasil yang baik. Meyakini bahwa tidak ada yang mampu menebak jalan hidup, semua kembali kepada diri sendiri. Berani mengambil peluang atau tidak. Diakhir pembicaraan, ia berpesan kepada anak muda untuk dapat memilih jalan hidup mereka sendiri. Selain itu, ia berharap pemerintah lebih memperhatikan para seniman jalanan yang usianya tidak lagi muda, agar dihormati dan diberi ruang lebih dalam berkarya.

Redaktur Foto: Hizqil Fadl Rohman/Suaka




Leave a comment