Gedung Student Center Lt.3 No.15 Kampus UIN SGD Bandung. Jln, A.H Nasution No.105, Cibiru-Bandung, Bandung LPM SUAKA UIN SGD Bandung © 2023

Secercah Cahaya Dalam Remang Gulita.

Secercah Cahaya Dalam Remang Gulita.
Foto dan Teks: Hizqil Fadl Rohman

Riuh suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari pelataran masjid Darushudur, Pondok Pesantren Tahfidz Tuna Netra Ma’had Sam’an Darusudur. Dengan wajah-wajah khusyuk, para penghafal qur’an meraba bintik-bintik dalam Qur’an braille, mushaf yang ditulis menggunakan simbol huruf braille yang diperuntukkan bagi para insan tunanetra.

Di sisi lain, terdapat beberapa santri yang duduk tenang sembari menggenggam audio yang didekatkan ke samping telinga. Berusaha mendengar lebih jelas bacaan qur’an, lalu kemudian melafalkan dan mencoba menghafalkannya ayat demi ayat.
Bulan Ramadan menjadi momentum bagi para santri untuk menghafal dan murojaah bersama. Pada bulan Ramadan para santri melaksanakan kegiatan tahfid qur’an setidaknya tiga kali dalam sehari yakni setelah salat subuh, zuhur, hingga asar. Itulah gambaran singkat kehidupan para santri tunanetra di Yayasan Sam’an, Pondok Pesantren Tahfidz Tunanetra Ma’had Sam’an Darusudur, Kota Bandung.

Awalnya, pondok pesantren yang didirikan sejak tahun 2018 oleh Ridwan Efendi, seorang tunanetra lulusan S3 Bahasa Arab asal Bandung ini, bermula saat dirinya merasakan bahayanya mental yang tidak stabil dengan hadirnya krisis percaya diri, “awalnya saya memiliki pemikiran yang individualis. Tidak kepikiran untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. Karena rata-rata tunanetra mengalami krisis kepercayaan diri, melihat bagaimana bahayanya mental yang hancur. Tapi, setelah merenung, saya tidak ingin berlarut dan mulai tersadarkan oleh banyk hal,” tukasnya.

Menggunakan metode sama’an dalam proses memahami Al-Qur’an secara cepat, kini Pondok pesantren tahfidz tunanetra telah menampung sekitar 26 santri tunanetra penghafal qur’an, diantaranya ada 17 laki-laki dan 9 perempuan, dari usia 15 tahun hingga 35 tahun, yang berasal dari berbagai daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten hingga Aceh. Dengan proyeksi hafalan mulai dari 15 Juz, 20 Juz hingga ada pula yang telah merampungkan hingga 30 Juz.

Ketua yayasan Sam’an, Solehudin bercerita, Pondok Pesantren Tahfidz Tunanetra Ma’had Sam’an Darusudur, bertujuan untuk mendorong tunanetra agar bangkit dari keterpurukan, mengupayakan mewujudkan mimpi bahwa tunanetra juga memiliki kemampuan dan kelebihan, “Seperti yang kita tahu, meskipun dasar pesantren ini adalah tahfidz qur’an, namun ilmu-ilmu pendukung lain kita berikan seperti, ilmu tajwid, tafsir Al-Qur’an dan hadits, bahasa arab hingga pembelajaran IT pun kita berikan sebagai penunjang untuk menggali potensi para santri,” Kilahnya menutup percakapan kala itu.

 

Redaktur Foto: Nur Ainun/Suaka



Leave a comment