Gedung Student Center Lt.3 No.15 Kampus UIN SGD Bandung. Jln, A.H Nasution No.105, Cibiru-Bandung, Bandung LPM SUAKA UIN SGD Bandung © 2023

Elegi Koran di Tepian Cikapundung

Foto dan teks: Kinanthi Zahra/Suaka

Senin (23/3) pukul tiga dini hari, Jalan Dr. Ir. Soekarno masih sepi dari kendaraan berbanding terbalik dengan ramainya aktivitas di tepian sungai Cikapundung. Matahari belum nampak, saat hilir mudik kegiatan penyebaran koran dari para agen dan para loper (pengantar, red) datang silih berganti menggunakan sepeda motor dan sepeda tua yang sudah dipasangi tas khusus di bagian jok belakang.

Kawasan Cikapundung, terletak sekitar 750 meter dari Alun-alun Kota Bandung, mejadi saksi bisu kejayaan surat kabar selama beberapa dekade ke belakang. Kawasan itu memainkan peran penting dalam distribusi dan peredaran media cetak seperti koran, tabloid, dan majalah di Bandung Raya.

Sutisna (65) lelaki paruh baya yang telah menjadi agen sejak tahun 1970-an. Ia mengaku, pada masa itu keuntungan di peroleh sangat besar, sebab dalam sehari ia mampu menjual 12.000 eksemplar koran.

“Menjual koran dahulu bisa menyekolahkan anak sampai pascasarjana. Sekarang sulit, hanya yang sepuh (jiwa tua, red) yang membaca,” ujarnya sambil tersenyum pelan.

Suasana di trotoar masih terasa lampau, dan khas dengan wangi kertas koran, bau tinta, juga orang-orang yang khidmat membaca surat kabar. Alur distribusi pun masih sama sejak dahulu, mobil boks penerbit datang membawa koran dan majalah, kemudian diserahkan kepada agen, dan diambil oleh para loper dan pengecer.

Di sudut lain, seorang agen, Deyu (67) ikut berkisah. Setiap tahunnya ada saja penerbit yang menyerah. Penerbit-penerbit ini telah mencoba berbagai hal agar mampu bertahan di tengah gempuran media online, mulai dari mengurangi jumlah halaman hingga mengurangi jumlah karyawan. Namun nihil, cukup sulit ternyata.

“Saat ini, (yang kiranya akan bertahan lama) di Bandung adalah Pikiran Rakyat dan Tribun,” ujarnya, optimis dengan dengan dua penerbit ternama itu.

Pertahun 2022, omzet penjualan koran menurun hingga 10 kali liipat atau hanya 1.800 eksemplar per hari. Media cetak telah kalah dengan cepatnya arus informasi yang ditawarkan gawai. Biaya produksi koran yang mahal, dan konvergensi media cetak ke daring menawarkan akses informasi yang mudah melalui internet, menjadi satu dari sekian banyaknya alasan, media cetak perlahan ditinggalkan.

Meski begitu, para agen percaya bahwa koran cetak belum benar-benar mati, “Media cetak masih memiliki pembacanya, bahkan mungkin sampai tiga-empat tahun lagi. Semoga.” harap Deyu, menutup percakapan pagi itu.

Redaktur Foto: Nur Ainun/Suaka



Leave a comment