Gedung Student Center Lt.3 No.15 Kampus UIN SGD Bandung. Jln, A.H Nasution No.105, Cibiru-Bandung, Bandung LPM SUAKA UIN SGD Bandung © 2020

Mengenal Tradisi Pujawali

Berbicara mengenai rasa syukur, tentu setiap orang memaknainya dengan banyak ragam dan cara. Seperti yang dilakukan oleh Umat Hindu di Peoho, Sulawesi Tenggara yang setiap tahunnya melaksanakan Tradisi Pujawali atau Piodalan. Merupakan sebuah tradisi upacara adat Warga Bali untuk Hari Lahir Pura, yang dilakukan sebagai bentuk rasa syukur mereka terhadap pemberian Tuhan.

Dalam rangkaian persiapan prosesi adat, tentu tidak lepas juga dari kerja sama para umatnya. Contohnya pada pembuatan sajen, Umat Hindu berkumpul di pura dari pagi hingga petang untuk membuat sajen. Beragam jenis sajen dari hasil bumi seperti beras empat warna; hitam, putih, kuning, merah muda, bunga-bunga, telur, pisang, jeruk, dan jenis lain ditempatkan di anyaman kelapa. Salah satu pembuat sajen, Ketut Ayu mengaku prosesi pembuatan sajen ini sudah memakan waktu tiga hari. Ia juga menjelaskan bahwa sajen ini nantinya akan dibawa pada Hari Pujawali.

Namun, sebelum prosesi Pujawali sajen-sajen tersebut wajib melalui proses pemberkatan terlebih dahulu. Hal itu akan dilakukan oleh jero mangku, yaitu orang yang telah dipercaya dan telah disucikan melalui proses ekajati atau mawinten. Nantinya jero mangku bertugas di pura sebagai perantara antara manusia dengan Sang Pencipta.

Ketika Hari Pujawali tiba, dijadikan momentum sebagai perefleksian terhadap diri agar bisa selalu bersyukur terhadap pemberian Tuhan. Dengan komponen lengkap seperti pemusik, kidung, sajen, jero mangku, para umat berkumpul di Pura Desa Peoho dengan suka cita, dan berdoa agar di tahun-tahun yang akan datang hidup tetap diberi kesejahteraan dari tanah, cuaca, air dan hal lain yang ada dalam kehidupan umat.

Fotografer: Nur Ainun /Suaka

Redaktur  : Hasna Fajriah /Suaka



Leave a comment